February 14, 2018

Beratnya Tanggung Jawab Orang Tua

Dulu, gak pernah terpikir sedalam ini mengenai tanggung jawab menjadi orang tua.
Dulu, gak pernah merasa se-takut ini.

Sekarang, semua terpikirkan, dan rasa takut juga semakin terasa. Bukan, bukan takut punya anak. Tapi takut mempertanggungjawabkannya kelak di akhirat. Karena sesederhana apapun yang kita berikan kepada anak, yang kita ajarkan, yang kita contohkan, jika hal itu buruk dan diterapkan oleh anak seumur hidupnya, maka apa yang akan kita jawab saat Allah bertanya "mengapa kau ajarkan itu kepada anakmu?"


Semakin ke sini jaman terasa semakin mengerikan. Adab dan akhlak seperti hilang lenyap. Tingkat keimanan semakin dipertanyakan. Isi berita banyak seputaran pembunuhan, pelecehan seksual, yang kesemuanya membuat saya makin takut. Sungguh berat tantangan menjadi orang tua. 

Dan semakin ke sini semakin tersadar, bahwa akhlak anak itu dibentuk sejak kecil. Lingkungannya, kebiasaannya, semua harus kita yang pilihkan dan arahkan. Kita yang membentuk. Dan memang paling benar semua dikembalikan kepada Al-Qur'an dan hadist. Apalagi, kita umat muslim memiliki role model terbaik. Role model seorang ayah, seorang suami, seorang pemimpin. Dialah nabi kesayangan kita, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. 

Membaca buku Islamic Parenting benar-benar membuka mata saya, buku itu merincikan bagaimana Beliau bersikap pada anak, bahkan sejak dalam kandungan sampai masa pra pernikahan. Do's and dont's terhadap anak sesuai usianya. And it all make sense! Sangat memberi pencerahan, masya Allah. Dan sekaligus sebagai pengingat bahwa semua hal baik dimulai sejak dini. (kalo mau intip sedikit penampakan bukunya, bisa lihat review saya di sini ya..)

Lalu saya bertukar pikiran dengan teman, beberapa teman. Juga mendengarkan kajian, tentang surga dan neraka (bagian cerita tentang neraka, lebih tepatnya). Dan saya menyadari pentingnya menanamkan keimanan sejak dini. Mengenalkan tauhid. Mengenalkan Allah. Mengenalkan surga dan neraka. Seperti hal kecil yang diceritakan seorang teman yang memberikan adiknya hadiah lalu adiknya berterima kasih padanya. Teman ini menjawab, "Dik, terima kasih nya sama Allah ya. Ucap alhamdulillah. Karena Allah lah yang ngasih Kakak rejeki jadi Kakak bisa beliin ini buat kamu."

Sederhana, tapi mengena. Mengajarkan anak bahwa semua yang kita punya/dapatkan sejatinya adalah pemberian Allah semata. Dan bagi anak kecil, insya Allah akan langsung tertanam. Karena anak adalah lembaran kertas putih yang siap kita lukis sebagaimana kita inginkan.

Dan perihal adab-akhlak, Ust. Felix Siaw memberikan satu kalimat yang terdengar sangat kuat di salah satu kajiannya:

"Dalam Islam, yang namanya pendidikan itu bukanlah transfer of knowledge, melainkan transfer of character."

It is so true! Karena apalah arti memiliki ilmu jika tidak beradab dan buruk akhlak. Dan kata beliau, cara terbaik untuk mengenalkan dan membentuk adab adalah dengan menceritakan kisah dalam Al-Quran. Kisah Nabi, sahabat, khalifah. Pastikan juga untuk memiliki buku Sirah Nabawiyah di rumah karena ada banyak sekali ibroh yang bisa diambil. Begitu pesan beliau. Dalam hati saya setuju, karena saya sendiri merasa sudah umur segini tapi masih sangat minim pengetahuan kisah sejarah Islam. Dan saya tidak ingin anak-anak saya kelak merasakan hal yang sama.

Banyak, sangat banyak yang harus diajarkan, diterapkan, dibiasakan. Gak bisa hanya asal mengalir, semua harus dikonsep, semua harus dipikirkan. Gak bisa instan. Memang berat, karena hasilnya pun insya Allah anak-anak soleh solehah yang membawa kita ke surga.

Semoga Allah mudahkan kita, dan meridhoi niat kita membentuk anak-anak soleh solehah yang istiqomah di jalanNya, aamiin.



January 17, 2018

Teruntuk Kalian yang Kusayangi..

Bismillah..

Assalamu’alaykum warrahmatullah wabarakatuh, keluarga-sanak saudara-sahabat-temanku yang kusayangi..

Sebelumnya aku mau minta maaf karena setelah ini kamu gak akan lagi mendapati aku mengucapkan selamat ulang tahun, baik untukmu maupun anggota keluargamu yang aku tau. Bukan karena aku tidak lagi peduli, bukan pula karena aku tidak lagi sayang. Karena percayalah, insya Allah kamu akan selalu aku doakan, tidak hanya setahun sekali.

Keputusan ini aku ambil murni karena aku takut tidak akan bisa mempertanggungjawabkannya kelak saat hisab karena perayaan ulang tahun tidak pernah diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw. Yang Beliau saw “rayakan” justru ulang hari, seperti dalam hadist berikut:

Shahih Muslim dari hadits Abu Qatadah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa hari Senin, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ.”
“Hari tersebut merupakan hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkannya al-Qur-an kepadaku pada hari tersebut.”

Juga karena perayaan demikian mengikuti kebiasaan kaum lain.

Aku lebih memilih untuk bisa memberikan hadiah kapan saja aku mau, tidak peduli waktu. Karena ternyata memberi hadiah adalah salah satu yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw, seperti sabda beliau:

"Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai" (H.R. Bukhari no. 594)


Aku harap kalian bisa memahami dan menerima keputusanku, juga mendukung aku yang sedang dalam proses belajar ilmu agama ini. Maaf jika ada kata yang kurang berkenan, semoga kita selalu berada dalam hidayah dan perlindungan Allah, aamiin.

January 12, 2018

sudah sesuai dengan ajaran Baginda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam kah sholat kita?


Pernah kah kalian mempertanyakan itu ke diri sendiri? Sudah yakin kah apa yang selama ini kita ikuti adalah sejatinya bersumber dari ajaran beliau shallallahu 'alaihi wasallam? 

October 30, 2017

Terlena dengan Musik


Musik. Lagu. Siapa yang tidak suka? Saya sendiri termasuk yang mencintai musik dan lagu, dulu. Dari jaman SMP rajin nyari lirik lagu barat yang lagi ngehits untuk dibaca jadi saya bisa ikut nyanyi dengan mengucapkan kata yang benar. Yang tentu saja saat itu gak betul-betul memperhatikan kandungan makna dari arti lirik lagu itu. Yang penting bisa nyanyi dengan benar.

SMA saya malah ikutan gabung di ekskul dance. Menghafal gerakan diselaraskan dengan hentakan irama lagu. Seringnya mulut ikut bernyanyi, memompa semangat dan lebih memudahkan menghafal gerakan. Di sini juga saya mulai kenal dengan musik rock. I was a huge fans of LP and Avril Lavigne.

Kuliah. Inilah saat di mana lagu mulai melenakan bagi saya. Setiap momen saat itu terkait dengan lagu. Liriknya saya nyanyikan dengan penuh penghayatan. Semua seperti mewakili perasaan yang saya rasakan. Apapun itu. Ada lagu untuk setiap kisah, setiap momen, setiap rasa. Lalu saya kenal dengan musik metal, yang ternyata malah bisa lebih dalam menyayat hati daripada musik pop melow. Killswitch Engage, Alter Bridge, and more. I even watched music concert. Avril Lavigne was my first. Then Paramore, NOAH (iya, ini band lokal, udah suka dari jaman namanya Peterpan), and Alter Bridge. Oh dan beberapa kali Java Jazz. Dan cinta dengan lagu-lagu itu berlangsung sampai saya bekerja. Rasanya ada yang kurang kalo kerja tanpa headphone/earphone dan playlist dari lagu favorit.

Serenenity Spa, Khusus Muslimah

Spa. Memanjakan diri. Siapa wanita yang gak suka ini? Saya saja yang notabene tidak terlalu suka dengan per-salon-an dan gak pernah betah berlama-lama di salon gak memungkiri kalo saya suka dimanjakan. Dimanjakan dalam artian dipijat dan dilulur. Apalagi dengan suasana yang mendukung untuk relaksasi fisik dan pikiran, di waktu yang memang badan terasa butuh dipijat. Masya Allah nikmatnya.

Tempat yang menyediakan layanan spa banyak sekali dan mudah untuk ditemukan. Namun, sebagai seorang muslimah yang sudah memutuskan untuk menutup aurat dengan berhijab membuat kita menjadi lebih berhati-hati dalam memilih tempat spa. Iya, memang bilik/kamar terapi tertutup dan terpisah antara lelaki dan wanita. Namun rasanya akan lebih tentram dan nyaman di hati kalo tempat itu murni untuk perempuan. Women only, or muslimah only. Dan rasanya, teman-teman wanita yang belum berhijab pun akan lebih merasa tenang dengan tempat khusus, bukan? Gak perlu ada perasaan was-was apakah ada bagian dari tubuh yang bisa jadi terlihat oleh lawan jenis.

Nah, tinggal di Condet alhamdulillah dekat dengan beberapa tempat spa khusus wanita/muslimah. Namun, di kali pertama ini saya memilih Serenity Spa. Pertama karena itu yang terlihat pertama kali dan kedua hasil googling ada banyak review bagus tentang tempat ini.