October 30, 2017

Terlena dengan Musik


Musik. Lagu. Siapa yang tidak suka? Saya sendiri termasuk yang mencintai musik dan lagu, dulu. Dari jaman SMP rajin nyari lirik lagu barat yang lagi ngehits untuk dibaca jadi saya bisa ikut nyanyi dengan mengucapkan kata yang benar. Yang tentu saja saat itu gak betul-betul memperhatikan kandungan makna dari arti lirik lagu itu. Yang penting bisa nyanyi dengan benar.

SMA saya malah ikutan gabung di ekskul dance. Menghafal gerakan diselaraskan dengan hentakan irama lagu. Seringnya mulut ikut bernyanyi, memompa semangat dan lebih memudahkan menghafal gerakan. Di sini juga saya mulai kenal dengan musik rock. I was a huge fans of LP and Avril Lavigne.

Kuliah. Inilah saat di mana lagu mulai melenakan bagi saya. Setiap momen saat itu terkait dengan lagu. Liriknya saya nyanyikan dengan penuh penghayatan. Semua seperti mewakili perasaan yang saya rasakan. Apapun itu. Ada lagu untuk setiap kisah, setiap momen, setiap rasa. Lalu saya kenal dengan musik metal, yang ternyata malah bisa lebih dalam menyayat hati daripada musik pop melow. Killswitch Engage, Alter Bridge, and more. I even watched music concert. Avril Lavigne was my first. Then Paramore, NOAH (iya, ini band lokal, udah suka dari jaman namanya Peterpan), and Alter Bridge. Oh dan beberapa kali Java Jazz. Dan cinta dengan lagu-lagu itu berlangsung sampai saya bekerja. Rasanya ada yang kurang kalo kerja tanpa headphone/earphone dan playlist dari lagu favorit.

Serenenity Spa, Khusus Muslimah

Spa. Memanjakan diri. Siapa wanita yang gak suka ini? Saya saja yang notabene tidak terlalu suka dengan per-salon-an dan gak pernah betah berlama-lama di salon gak memungkiri kalo saya suka dimanjakan. Dimanjakan dalam artian dipijat dan dilulur. Apalagi dengan suasana yang mendukung untuk relaksasi fisik dan pikiran, di waktu yang memang badan terasa butuh dipijat. Masya Allah nikmatnya.

Tempat yang menyediakan layanan spa banyak sekali dan mudah untuk ditemukan. Namun, sebagai seorang muslimah yang sudah memutuskan untuk menutup aurat dengan berhijab membuat kita menjadi lebih berhati-hati dalam memilih tempat spa. Iya, memang bilik/kamar terapi tertutup dan terpisah antara lelaki dan wanita. Namun rasanya akan lebih tentram dan nyaman di hati kalo tempat itu murni untuk perempuan. Women only, or muslimah only. Dan rasanya, teman-teman wanita yang belum berhijab pun akan lebih merasa tenang dengan tempat khusus, bukan? Gak perlu ada perasaan was-was apakah ada bagian dari tubuh yang bisa jadi terlihat oleh lawan jenis.

Nah, tinggal di Condet alhamdulillah dekat dengan beberapa tempat spa khusus wanita/muslimah. Namun, di kali pertama ini saya memilih Serenity Spa. Pertama karena itu yang terlihat pertama kali dan kedua hasil googling ada banyak review bagus tentang tempat ini.

August 29, 2017

the comeback : I'm the Full-time Wife ^^

Wow, udah lebih dari setahun ternyata gak nulis di sini. My last writing was on May 2017! Dan April 2017 saya resmi menjadi IRT. Hmmm, jadi IRT malah jadi gak sempet nulis gitu? Time to make up then.

Duh, kaku ya lama gak nulis. Emang bener kata orang-orang, otak itu harus sering dipake biar gak tumpul. Dalam hal ini, I really need to get my mood back and start writing again. Setidaknya supaya otak ini terus mikir, terus kerja, terus produktif. So allow me to start with my new status : full-time wife.

Menjadi seorang full-time wife (ibu rumah tangga, atau IRT, atau apalah ya namanya) adalah keputusan yang pada akhirnya saya ambil justru di saat saya merasa pekerjaan saya menyenangkan dan penuh tantangan plus punya atasan yang luar biasa hebat. Trus kenapa dong keputusan itu diambil?

May 17, 2016

Solo, Kota Kelahiran Bapak Tercinta

Sudah cukup lama saya tidak menjejakkan kaki di kota kelahiran Bapak. Saat kecil dulu kota ini menjadi destinasi lebaran setidaknya dua tahun sekali bergantian dengan Bandung. Namun sepeninggal Eyang Kakung dan Eyang Putri, destinasi lebaran kami pun beralih tiap tahun selalu ke Bandung karena di sana masih ada Eyang Putri (ibu dari Ibu saya). Otomatis semenjak itu juga Solo seperti menjadi kota yang tidak pernah disinggahi lagi, padahal di sana masih ada kakak dan adik-adik Bapak, juga sebagian besar sepupu saya dari keluarga Bapak. Entah, seperti ada yang menghalangi antara saya dan Solo.

Tahun ini saya kembali ke sana, dengan niat bismillah ingin membawa suami ke kota kelahiran Bapak, ke makam kedua Eyang tersayang, juga silaturahim dengan keluarga di sana. Juga dengan bonus mau mengobati rasa penasaran karena saya belum pernah ke Borobudur. Jadilah destinasi diputuskan Solo dan Jogja.

March 29, 2016

Menyayat Hati : Melihat Anak Kecil Nonton Film dengan Adegan Kekerasan

"Feeling very much sad and uncomfortable knowing the fact that the Batman vs Superman movie is rated for minimum age of 13 and it contents too many violence yet so many children below 10 founded in most of all cinema."

Tak henti-hentinya dan semoga tidak akan juga pernah merasa bosan untuk memposting kalimat serupa tiap kali melihat ada anak yang belum cukup umur menonton film yang penuh dengan adegan kekerasan dan/atau adegan dewasa. Karena apa? Karena hal itu benar-benar mengusik nurani saya. Tiap kali di tengah adegan film terdengar suara anak kecil (bahkan sempat ada balita menangis), fokus saya ke film langsung hilang. Rasanya campur aduk, sedih marah kesel kecewa, tidak bisa berbuat apa-apa.